Jumat, 27 November 2009

PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

A.   PENDAHULUAN

        Pendidikan adalah aspek universal yang selalu dan harus ada dalam kehidupan manusia. Tanpa ada pendidikan, kehidupan manusia tentu akan mengarah kepada kehidupan statis, tanpa kemajuan, bahkan bisa jadi akan mengalami kemunduran dan kepunahan. Karena itu, menjadi fakta yang tidak terbantahkan bahwa pendidikan adalah sesuatu yang niscaya dalam kehidupan manusia.

Seiring berjalannya waktu dan semakin pesatnya tingkat intelektualitas serta kualitas kehidupan, maka dimensi pendidikan pun menjadi lebih kompleks. Oleh karena itu, tentu saja hal ini membutuhkan sebuah desain pendidikan yang tepat dan sesuai dengan kondisinya. Sehingga berbagai teori, metode dan desain pembelajaran serta pengajaran pun dibuat dan diciptakan untuk mengapresiasikan semakin beragamnya tingkat kebutuhan dan kerumitan permasalahan pendidikan. Jadi memang itulah yang menjadi esensi pendidikan itu sendiri, yakni bagaimana menciptakan sebuah kehidupan lebih baik yang tercipta dari proses pendidikan yang kontekstual dan mampu menyerap aspirasi zaman dengan tepat dan sesuai.

Guru di dalam melaksanakan pembelajaran, juga harus bisa memilih maupun menetapkan suatu pendekatan pembelajaran yang tepat di kelas sehingga hasil pembelajaran lebih optimal, selayaknya seseorang dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari yang harus mampu menetapkan sasaran yang hendak dicapai. Guru pun demikian, harus bisa menetapkan pendekatan pembelajaran yang tepat.

Dalam bidang studi matematika, pendekatan pembelajaran atau sering disebut pendekatan pembelajaran matematika sangat penting diterapkan. Dimana pendekatan pembelajaran matematika ini adalah suatu cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan dapat diadaptasikan oleh siswa. Biasanya sering kali terjadi miskonsepsi antara guru dengan siswa akan suatu materi atau pembelajaran. Hal ini dikarenakan guru tersebut belum dapat menetapkan pendekatan pembelajaran yang cocok untuk diterapkan. Apalagi dalam pembelajaran matematika yang sering menuntut siswa agar mempunyai pola pikir sistematis, logis dan kritis dalam pemecahan permasalahan yang dihadapinya.

Dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa masing – masing individu akan memilih cara dan gayanya sendiri untuk belajar dan mengajar, namun setidak-tidaknya ada karakteristik tertentu dalam pendekatan pembelajaran tertentu yang khas dibandingkan dengan pendekatan lain. Salah satu contoh pendekatan matematika yang akan dibahas dalam adalah pendekatan konstruktivisme. Martin. Et. Al (dalam Gerson Ratumanan, 2002) mengemukakan bahwa konstruktivisme menekankan pentingnya setiap siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling mempengaruhi dari belajar sebelumnya dengan belajar baru. Hubungan tersebut dikonstruksikan oleh siswa untuk kepentingan mereka sendiri. Elemen kuncinya adalah bahwa orang belajar secara aktif mengkonstruksikan pengetahuan mereka sendiri, membandingkan informasi baru dengan pemahaman sebelumnya dan menggunakannya untuk menghasilkan pemahaman baru. Untuk itu, setiap pelajaran di sekolah perlu diarahkan untuk selalu mendidik siswa agar mengkonstruksikan pengetahuannya. Pengkonstruksian ini bertolak dari proses pembelajaran yang bermakna. Kebermaknaan pembelajaran matematika dapat membangun suatu konsep matematika pada diri siswa. Sebuah konsep terbentuk melalui pengalaman nyata yang diharapkan akan membentuk sikap kritis, kreatif, jujur dan komunikatif bagi peserta didik. Tidak hanya hal tersebut, dalam tulisan ini juga akan dirinci bagaimana belajar matematika menurut paham konstruktivisme; bagaimana pembelajaran konstruktivisme dalam matematika; serta bagaimana implementasi pendekatan konstruktivisme dalam matematika.

Hal tersebut sangat perlu dibahas karena bertujuan agar kita mengetahui bagaimana belajar matematika itu menurut paham konstruktivisme; mengetahui pembelajaran konstruktivisme dalam matematika. Serta mengetahui seperti apa implementasi pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran matematika. Dengan pemahaman yang cukup mengenai hal tersebut diatas, maka setiap individu akan mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal.


B.     PEMBAHASAN

Pendekatan konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam pemikiran pelajar. Pengetahuan dikembangkan secara aktif oleh pelajar itu sendiri dan tidak diterima secara pasif dari orang disekitarnya. Hal ini bermakna bahwa pembelajaran merupakan hasil dari usaha pelajar itu sendiri dan bukan hanya ditransfer dari guru kepada pelajar. Hal tersebut berarti siswa tidak lagi berpegang pada konsep pengajaran dan pembelajaran yang  lama, dimana guru hanya menuangkan atau mentransfer ilmu kepada siswa tanpa adanya usaha terlebih dahulu dari siswa itu sendiri.

Menurut pandangan ahli konstruktivisme, setiap siswa mempunyai  peranan dalam menentukan apa yang dipelajari. Penekanan diberi kepada siswa agar dapat membentuk kemahiran dan pengetahuan yaitu dengan mengaitkan pengalaman yang terdahulu dengan kegunaannya di masa depan. Siswa tidak hanya diberikan penekanan terhadap fakta atau konsep tetapi juga diberikan penekanan terhadap proses berpikir serta kemahiran berkomunikasi.

Di dalam kelas konstruktivis, para siswa diberdayakan oleh pengetahuannya yang berada dalam diri mereka. Mereka berbagi strategi dan penyelesaian, debat antara satu dengan lainnya, berpikir secara kritis tentang cara terbaik menyelesaikan setiap masalah. Dalam kelas konstruktivis seorang guru tidak mengajarkan kepada anaknya bagaimana menyelesaikan persoalan, namun mempresentasikan masalah dan mendorong (encourage) siswa untuk menemukan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan permasalahan. Pada saat siswa memberikan jawaban, guru mencoba untuk tidak mengatakan bahwa jawabannya benar atau tidak benar. Namun guru mendorong siswa untuk setuju atau tidak setuju kepada ide seseorang dan saling tukar menukar ide sampai persetujuan dicapai tentang apa yang dapat masuk akal siswa (dalam Suherman, 2003)

Merrill mengemukakan asumsi-asumsi konstruktivisme adalah sebagai berikut:

1.    Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman;

2.    Pembelajaran adalah sebuah interpretasi personal terhadap dunia;

3.    Pembelajaran adalah sebuah proses aktif yang di dalamnya makna dikembangkan atas dasar pengalaman;

4.    Pertumbuhan konseptual datang dari negosiasi makna, pembagian perspektif ganda, dan perubahan bagi representasi internal kita melalui pembelajaran kolaboratif;

5.    Pembelajaran harus disituasikan dalam seting yang realistis; pengujian harus diintegrasikan dengan tugas dan bukan sebuah aktivitas yang terpisah.

Steffe dan Kieren (1995) mengungkapkan beberapa prinsip pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme diantaranya bahwa observasi dan mendengar aktivitas serta pembicaraan matematika siswa adalah sumber yang kuat dan petunjuk untuk mengajar, untuk kurikulum, dan untuk cara-cara dimana pertumbuhan pengetahuan siswa dapat dievaluasi (dalam situs http://onengdalilah.blogspot.com/2009/04/modelpembelajaranmatematika- dalam.html, diakses tanggal 10 September 2009)

Dalam konstruktivisme proses pembelajaran senantiasa “problem centered approach  dimana guru dan siswa terikat dalam pembicaraan yang mempunyai makna matematika. Ciri-ciri tersebutlah yang akan mendasari pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme. (dalam Suherman, 2003)

 

B.1. Belajar Matematika Menurut Paham Konstruktivisme

Hudojo (dalam Hermayani, 2008) mengatakan bahwa belajar merupakan suatu proses aktif mengembangkan skemata sehingga pengetahuan terkait bagaikan jaring laba-laba dan bukan sekedar tersusun secara hierarkis “Guru berperan membantu siswa menemukan fakta, konsep, prinsip bagi diri mereka sendiri bukan memberi ceramah atau mengendalikan seluruh kegiatan”. Dalam kaitannya dengan pembelajaran matematika di SMA, siswalah yang harus berpikir secara aktif merumuskan konsep dan mengambil makna.

Nickson mengatakan bahwa pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktivisme adalah membantu pembelajaran matematika membangun konsep-konsep, prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga prinsip atau konsep itu terbangun kembali dan transformasi dan informasi yang diperoleh menjadi konsep atau prinsip baru.

Menurut Hudojo (dalam Hermayani, 2008), ada tiga ciri yang harus dimunculkan dalam proses pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktivisme yaitu sebagai berikut:

1.      Pebelajar harus terlibat secara aktif dalam belajarnya. Pebelajar belajar materi matematika secara bermakna dengan bekerja dan berpikir;

2.      Informasi baru harus diikutsertakan dengan informasi lama sehingga menyatu dengan skemata (struktur kognitif) yang dimiliki oleh pebelajar;

3.      Orientasi pembelajarannya berdasarkan pemecahan masalah.

Para ahli konstruktivisme mengatakan bahwa ketika siswa mencoba menyelesaikan tugas-tugas di kelas, maka pengetahuan matematika dikonstruksikan secara aktif (wood dan cobb dalam Suherman, 2003). Selain itu, para ahli konstruktivisme yang lainnya juga mengatakan bahwa dari perspektifnya konstruktivis, belajar matematika bukanlah suatu proses “ pengepakan” pengetahuan secara hati-hati, melainkan tentang mengorganisir aktivitas, dimana kegiatan ini diinterpretasikan secara luas termasuk aktivitas dan berpikir konseptual (Cobb dalam Suherman, 2003). Cobb juga mendefinisikan bahwa belajar matematika merupakan proses dimana siswa secara aktif mengkonstruksikan pengetahuan matematika.

Para ahli konstruktivis setuju bahwa belajar matematika melibatkan manipulasi aktif dari pemaknaan bukan hanya bilangan dan rumus-rumus saja. Mereka menolak paham bahwa matematika dipelajari dalam suatu koleksi yang berpola linier. Setiap tahap dari pembelajaran melibatkan suatu proses penelitian terhadap makna dan penyampaian ketrampilan hapalan dengan cara yang tidak ada jaminannya bahwa siswa akan menggunakan keterampilan intelegennya dalam setting matematika. Dalam kaitannya dengan belajar, belajar dipandang sebagai proses aktif dan konstruktivis dimana siswa mencoba untuk menyelesaikan masalah yang muncul sebagaimana mereka berpartisipasi secara aktif dalam latihan matematika di kelas (Cobb dalam Suherman 2003)

Confrey (dalam Suherman, 2003), menawarkan suatu powerfull construction dalam matematika. Dalam mengkonstruksi ia mengidentifikasikan sepuluh karakteristik powerfull construction berpikir siswa. Powerfull construction tersebut ditandai oleh:

1.      sebuah struktur dengan ukuran kekonsistenan internal;

2.      suatu keterpaduan antar bermacam – macam konsep;

3.      suatu kekonvergenan diantara aneka bentuk dan konteks;

4.      kemampuan untuk merefleksikan dan menjelaskan;

5.      sebuah kesinambungan sejarah;

6.      terikat kepada bermacam – macam sistem simbol;

7.      suatu yang cocok dengan pendapat experts (ahli);

8.      suatu yang potensial untuk bertindak sebagai alat untuk konstruksi lebih lanjut;

9.      sebagai petunjuk untuk tindakan selanjutnya;

10.  suatu kemampuan untuk menjustifikasi dan mempertahankan.

Semua  ciri-ciri powerfull  diatas dapat digunakan secara efektif dalam proses pembelajaran di kelas. Menurut Confrey (dalam Suherman, 2003), siswa-siswa yang belajar matematika sering kali hanya menetapkan suatu kriteria evaluasi mereka dari yang mereka konstruksi. Akibatnya pengetahuan matematika menjadi terisolasi dari sisa pengalaman  mereka yang dikonstruksi dari aksi mereka di dunia dalam pola yang spontan dan interaktif.  Oleh karena itu, pandangan siswa tentang  ‘kebenaran’ ketika siswa belajar matematika perlu mendapat pengawasan ahli dan masyarakat menjadi tidak lengkap. Dalam kasus ini peranan guru dan peranan siswa lain adalah menjustifikasi berpikirnya siswa dalam matematika.

Salah satu yang mendasar dalam pembelajaran matematika menurut konstruktivis adalah suatu pendekatan dengan jawab tak terduga sebelumnya dengan suatu  ketertarikan yang cerdik dalam mempelajari karakter, keaslian, cerita dan implikasinya. Pandangan konstruktivisme dalam proses pembelajaran menghendaki adanya pergeseran dari peran pengajar sebagai otoritas ilmu menuju peran pengajar sebagai fasilitator dan mediator yang kreatif. Dengan demikian disini guru dituntut senantiasa bereksplorasi dalam mengelola pembelajaran, mengemas sajian materi pada buku teks sedemikian rupa sehingga menarik bagi siswa dan bertindak sebagai fasilitator dan mediator dalam pembelajaran yang dikelolanya. Salah satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah guru tidak hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa tetapi siswa harus membangun pengetahuan sendiri dalam benaknya. Dalam proses ini guru dapat membantu dengan cara-cara mengajar sehingga informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-idenya, mengajak siswa agar menyadari dan secara sadar menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. “Teori Konstruktivis memandang siswa terus-menerus memeriksa informasi-informasi baru yang berlawanan dengan aturan-aturan lama dan merevisi aturan-aturan itu jika tidak sesuai lagi”.

Selain itu, menurut konstruktivis bahwa secara substantif, belajar matematika adalah proses pemecahan masalah. (Cobb, Thompson, dan von Glaserfeld, dalam Suherman, 2003). Konstruktivisme telah memfokuskan secara eksklusif pada proses dimana siswa secara individual aktif mengkonstruksi realitas matematika mereka sendiri.(Cobb et.al, dalam Suherman, 2003 )

 

B.2. Pembelajaran Konstruktvisme dalam Matematika

Dalam pembelajaran guru tidak dapat hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan dalam benaknya. Guru hanya membantu agar informasi menjadi lebih bermakna dan relevan bagi siswa dengan menunjukkan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan strategi-strategi yang dimilikinya untuk belajar. Berdasarkan hasil-hasil penelitian Piaget (dalam Hermayani, 2008) berkesimpulan bahwa pengetahuan dibangun dalam diri anak. Piaget juga mengatakan bahwa pengetahuan dikonstruksi sebagai upaya keras pebelajar untuk mengorganisasikan pengalamannya dengan skema-skema atau struktur kognitif yang telah ada sebelumnya pada anak itu sendiri. Lebih lanjut teori konstruktivisme memandang siswa secara terus-menerus memeriksa informasi-informasi baru yang berlawanan dengan aturan-aturan lama dan menelusuri aturan-aturan tersebut jika tidak sesuai lagi.

Beberapa ahli konstruktivis telah menguraikan indikator belajar mengajar berdasarkan konstruktivisme. Confrey (dalam Suherman, 2003) menyatakan bahwa :

…… sebagai seorang konstruktivis ketika saya mengajarkan matematika, saya tidak mengajarkan siswa tentang struktur matematika yang objeknya ada didunia ini. Saya mengajar mereka, bagaimana mengembangkan kognisi mereka, bagaimana melihat dunia melalui sekumpulan lensa kuantitatif  yang saya percaya akan menyediakan suatu cara yang powerfull  untuk memahami dunia, bagaimana merefleksikan lensa-lensa itu untuk menciptakan lensa-lensa yang lebih kuat, dan bagaimana mengapresiasi peranan dari lensa dalam memainkan pengembangan kultur mereka. Saya mencoba untuk mengajarkan mereka untuk mengembangkan suatu alat intelektual yaitu matematika.

 

Hal ini tersebut di atas mencerminkan bahwa matematika hanyalah sebagai alat untuk berfikir. Dimana fokus utama belajar matematika adalah memberdayakan siswa untuk berpikir mengkonstruksi pengetahuan matematika yang pernah ditemukan oleh ahli-ahli sebelumnya.

Suparno menyatakan bahwa proses konstruksi pengetahuan bercirikan antara lain sebagai berikut:

1.    Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. Konstruksi dalam hal ini dipengaruhi oleh pengertian yang telah ia punyai.

2.    Konstruksi pengetahuan adalah proses yang terus-menerus. Setiap kali berhadapan dengan fenomena atau persoalan baru, diadakan rekonstruksi, baik secara kuat maupun lemah.

3.    Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, melainkan lebih suatu pengembangan pemikiran dengan memuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan, melainkan merupakan perkembangan itu sendiri, suatu perkembangan yang menuntut penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang.

4.    Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam keraguan yang merangsag pemikiran lebih lanjut. Situasi ketidakseimbangan (disequilibrium) adalah situasi yang baik untuk memacu belajar. 

Ciri-ciri tersebut memberikan acuan bahwa dalam pembelajaran matematika setiap siswa harus mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dan mempunyai cara sendiri untuk mengerti serta mengetahui kekhasan dalam dirinya termasuk keunggulan dan kelemahannya dalam memahami sesuatu. Ini berarti siswa aktif berpikir, merumuskan konsep, dan mengambil makna. Peran guru disini adalah membantu agar proses konstruksi itu berjalan agar siswa membentuk pengetahuannya. Lebih lanjut Piaget (dalam Ratumannan, 2002) menegaskan bahwa pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skemata atau struktur kognitif. Dengan skemata atau struktur kognitif ini seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru, yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan akomodasi adalah penyusunan kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat, Reseffendy (dalam Ratumanan, 2002)

Menurut Davis (dalam Hermayani, 2008) pandangan konstruktivisme dalam pembelajaran matematika berorientasi kepada:

1.    Pengetahuan dibangun dalam pikiran melalui proses asimilasi atau akomodasi.

2.  Dalam pengerjaan matematika, setiap langkah pebelajar dihadapkan kepada “apa”.

3.  Informasi baru dikaitkan dengan pengalamannya tentang dunia melalui suatu kerangka logis yang mentransformasikan, mengorganisasikan dan

     mengintepretasikan pengalamannya.

4.  Pusat pembelajaran adalah bagaimana pebelajar berpikir, bukan apa yang mereka katakan atau tulis. Sehinnga proses konstruksi pengetahuan terjadi di dalam benak siswa sendiri melalui proses internalisasi.

Dengan kalimat lain, apabila suatu informasi (pengetahuan) baru diperkenalkan kepada siswa dan pengetahuan tersebut sesuai dengan struktur kognitif yang telah dimilikinya, maka pengetahuan itu akan beradaptasi melalui proses asimilasi dan terbentuklah pengetahuan baru. Sedangkan apabila pengetahuan baru yang dikenalkan itu tidak sesuai dengan struktur kognitif siswa maka akan terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium), kemudian struktur kognitif tersebut direstrukturisasi kembali akan dapat disesuaikan dengan pengetahuan baru atau terjadi keseimbangan (equilibrium) (dalam Ratumanan, 2002)

Berdasarkan pengertian diatas, maka menurut pendekatan konstruktivisme dapat diartikan bahwa belajar adalah proses pembentukan makna secara aktif oleh siswa sendiri terhadap masukan sensori baru yang didasarkan atas struktur kognitif yang telah dimiliki sebelumnya.

 

B.3. Implementasi dalam Pembelajaran Matematika

            Konsep-konsep matematika tersusun secara hierarkis, terstruktur, logis dan sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling kompleks. Dalam matematika terdapat topik atau konsep prasyarat sebagai dasar untuk memahami topik atau konsep selanjutnya. Menurut konstruktivis secara substantif, belajar matematika adalah proses pemecahan masalah ( dalam situs http://techonly13.wordpress.com/2009/07/04/pembelajaran-matematika, diakses tanggal 10 September 2009). Dalam hal ini fokus utama belajar matematika adalah memberdayakan siswa untuk berpikir mengkonstruk pengetahuan matematika yang pernah ditemukan oleh ahli sebelumnya. Evaluasi dalam pembelajaran matematika secara konstruktivis terjadi sepanjang proses pembelajaran berlangsung (on going assesment)

Selain itu, data kemampuan siswa dalam matematika harus memasukkan pengetahuan tentang konsep matematika, prosedur matematika, kemampuan problem solving, reasoning dan komunikasi. Sedangkan Nisbet (1985) menyatakan bahwa “tak ada cara tunggal yang tepat untuk belajar dan tak ada cara terbaik untuk mengajar. Namun demikian seorang guru dapat menerapkan salah satu pendekatan yang cocok dengan mempertimbangkan kondisi siswa.

Dari sudut pandang konstruktivis, Koehler dan Grouws (dalam Suherman, 2003) menyatakan bahwa pembelajaran telah dipandang sebagai suatu garis kontinum antara negosiasi dan imposition pada ujung-ujungnya. Lebih jauh lagi, Cobb dan Steffe menambahkan bahwa  “…..dalam pandangan konstruktivisme guru harus secara terus menerus menyadarkan untuk mencoba keduanya aksi siswa dengan dirinya dari sudut pandang siswa ”. Seorang yang memandang bahwa belajar adalah suatu transmisi, maka proses mengetahui akan mengikuti model imposition (pembebanan). Sedangkan yang berpandangan bahwa mengajar adalah suatu proses memfasilitasi suatu konstruksi, maka ia akan mengikuti model negosiasi. Aktivitas guru dikelas dipengaruhi oleh paham mereka tentang pembelajaran.

Perbedaan individu di kelas berimplikasi bahwa guru diisyaratkan untuk mempertimbangkan bagaimana menerapkan pembelajaran matematika agar dapat melayani secara cukup perbedaan-perbedaan  individu siswa.

Berkenaan dengan perbedaan individu, Board of Studies tahun 1995 menyatakan bahwa “siswa akan mencapai prestasi belajar dalam kecepatan yang berbeda dan secara kualitatif dalam cara-cara yang berbeda”. Lovitt dan Clarke, 1988 (dalam Suherman, 2003) menambahkan bahwa “kualitas pembelajaran ditandai dengan berapa luas dalam lingkungan belajar:

·      Mulai dari mana siswa ini berada.

·      Mengenali bahwa siswa belajar dengan kecepatan yang berbeda

     dan cara yang berbeda.

·      Melibatkan siswa secara fisik dalam proses belajar.

·      Meminta siswa untuk menvisualkan yang imajiner….”

 

Dengan demikian ada suatu perbedaan yang sangat berarti antara pembelajaran matematika menggunakan paradigma konstruktivisme dan pendekatan tradisional. Di dalam konstruktivisme peranan guru bukan pemberi jawaban akhir atas pertanyaan siswa, melainkan mengarahkan mereka untuk membentuk (mengkonstruksikan) pengetahuan matematika sehingga diperoleh struktur matematika. Sedangkan dalam paradigma tradisional, guru mendominasi pembelajaran dan guru sanantiasa menjawab ‘dengan segera‘ terhadap pertanyaan-pertanyaan siswa.

Implikasi dari perbedaan-perbedaan di atas menjadikan posisi guru dalam pembelajaran matematika untuk bernegosiasi dengan siswa, bukan memberikan jawaban akhir yang telah jadi. Negosiasi yang dimaksudkan di sini adalah berupa pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang menantang siswa untuk berpikir lebih lanjut yang dapat mendorong mereka sehingga penguasaan konsepnya semakin kuat. Tidak hanya itu, implikasi pandangan konstruktivis dalam pembelajaran matematika, guru akan bertindak sebagai mediator dan fasilitator yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri siswa (dalam  situs http://onengdalilah.blogspot.com/2009/04/model-pembelajaran-matematika-dalam.html, diakses tanggal 10 September 2009 ).

Pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan konstruktivis, maka strategi yang sesuai dengan kondisi tersebut adalah dengan pemberian tugas rumah, karena dapat memberikan suatu motivasi kepada siswa untuk memahami suatu konsep secara utuh melalui pengerjaan tugas dengan kondisi dan situasi yang tidak hanya terpaku pada ruang kelas dan keterbatasan waktu dalam proses belajar. Siswa dapat berusaha memahami suatu masalah beserta pemecahannya berdasarkan kecepatan dan kemampuannya sendiri. Dengan demikian diharapkan dapat memberi suatu motivasi kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran dan menimbulkan tangggapan positif terhadap matematika.

 

C.    PENUTUP

C.1. Simpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.      Pendekatan konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam pemikiran pelajar. Pengetahuan dikembangkan secara aktif oleh pelajar itu sendiri dan tidak diterima secara pasif dari orang disekitarnya.

2.      Pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktivisme adalah membantu pembelajaran matematika membangun konsep-konsep, prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi sehingga prinsip atau konsep itu terbangun kembali dan transformasi dan informasi yang diperoleh menjadi konsep atau prinsip baru.

3.      Menurut pendekatan konstruktivisme, belajar adalah proses pembentukan makna secara aktif oleh siswa sendiri terhadap masukan sensori baru yang didasarkan atas struktur kognitif yang telah dimiliki sebelumnya.

4.      Pemberian tugas rumah dengan pendekatan konstruktivis, karena dapat memberikan suatu motivasi kepada siswa untuk memahami suatu konsep secara utuh melalui pengerjaan tugas dengan kondisi dan situasi yang tidak hanya terpaku pada ruang kelas dan keterbatasan waktu dalam proses belajar.

 

C.2. Saran

Saran yang dapat diberikan mengenai pendekatan pembelajaran matematika menurut konstruktivisme adalah dalam pembelajaran guru tidak dapat hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan dalam benaknya. Guru hanya membantu agar informasi menjadi lebih bermakna dan relevan bagi siswa dengan menunjukkan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan strategi-strategi yang dimilikinya untuk belajar. Selain itu, posisi guru dalam pembelajaran matematika adalah untuk bernegosiasi dengan siswa, bukan memberikan jawaban akhir yang telah jadi. Tidak hanya itu, guru seharusnya diharapkan dapat bertindak sebagai mediator dan fasilitator yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri siswa. Melalui pemberian tugas rumah dengan pendekatan konstruktivis, diharapkan dapat memberikan suatu motivasi kepada siswa untuk memahami suatu konsep secara utuh melalui pengerjaan tugas dengan kondisi dan situasi yang tidak hanya terpaku pada ruang kelas dan keterbatasan waktu dalam proses belajar. Siswa dapat berusaha memahami suatu masalah beserta pemecahannya berdasarkan kecepatan dan kemampuannya sendiri.

Daftar Pustaka

Hermayani, Luh, dkk. 2008. Pendekatan Pembelajaran Matematika. Singaraja: (tidak diterbitkan).

 

http://onengdalilah.blogspot.com/2009/04/modelpembelajaranmatematika-dalam.html, diakses tanggal 10 September 2009

 

http://techonly13.wordpress.com/2009/07/04/pembelajaran-matematika, diakses tanggal 10 September 2009

 

Ratumanan, Tanwey Geson. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Surabaya: Unesa University Press.

 

            Suherman, H. Erman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika

Kontemporer. Jakarta: Universitas Pendidikan Indonesia.

 

 

                       

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar