Rabu, 25 November 2009

Kurikulum Muatan Lokal

A. PENDAHULUAN
Seperti diketahui, Indonesia memiliki beragam budaya. Hal ini karena Indonesia terdiri dari banyak pulau. Tentunya tiap pulau yang ada ini memiliki budaya serta tradisi yang berbeda-beda. Meskipun memiliki kebudayaan serta tradisi yang berbeda-beda, mereka tetap dapat hidup berdampingan. Hal ini karena adanya rasa persatuan dan kesatuan yang dimiliki.
Seiring perkembangan zaman, tidak jarang terjadi pertukaran budaya. Dalam artian, seseorang dari daerah satu belajar budaya di daerah lain. Hal ini disebabkan karena tidak jarang antar budaya tersebut memiliki kesamaan dan kemiripan. Agar budaya yang dimiliki oleh satu daerah tidak punah, tentunya harus dilestarikan. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mewariskan budaya tersebut. Seperti di Bali, misalnya tari-tarian. Guna melestarikan tarian ini, banyak seniman-seniman tari yang membuka sanggar tari, sehingga para generasi muda bisa belajar tarian tersebut. Sehingga dalam hal ini adalah bagaimana upaya generasi pendahulu agar bisa menarik perhatian para generasi muda untuk mempelajari budaya yang dimiliki oleh daerah tersebut, dan bahkan bisa mewariskannya pada anak cucu.
Dari contoh di atas, dapat diperoleh gambaran bahwa cara mewariskan budaya tersebut melalui suatu pembelajaran. Jika dibawa ke dunia pendidikan, hal ini sama seperti pembelajaran di sekolah yang mana ada pendidik dan peserta didik. Dalam setiap pembelajaran, pendidik memiliki strategi yang berbeda-beda ketika melaksanakan pembelajaran di kelas. Hal ini bertujuan untuk menarik minat peserta didik, sehingga materi yang ingin disampaikan bisa diterima dan dipahami dengan baik oleh peserta didik.
Sebelum menerapkan strategi, guru terlebih merancang suatu skenario pembelajaran terhadap materi yang akan dijelaskan di kelas. Dalam merancang skenario ini, guru biasanya mengacu pada silabus yang telah dibuat sebelumnya. Sebuah silabus biasanya mencakup beberapa kompetensi dasar yang akan diterapkan selama satu semester. Jika dilihat dari skup yang lebih tinggi, silabus dirancang berdasarkan kurikulum yang berlaku. Kurikulum inilah yang mengatur semuanya, mulai dari perencanaan hingga evaluasi.
Kurikulum ini ada beberapa macam, salah satunya adalah kurikulum muatan lokal. Di dalam kurikulum ini, memuat materi pelajaran yang mengacu pada budaya serta tradisi setempat. Sehingga secara tidak langsung bertujuan untuk melestarikan budaya serta tradisi tersebut. Muatan lokal antar satu daerah dengan daerah lain tentu berbeda. Hal ini karena kebudayaan antar daerah berbeda-beda, dan materi muatan lokal ini diatur oleh daerah (sesuai otonomi daerah). Tidak seperti kurikulum nasional, yang memang ditentukan oleh pusat. Seperti misalnya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), KBK.
Kurikulum muatan lokal ini telah diakui oleh negara, karena diperkuat oleh Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI nomor 0412/U/1987 yang disahkan tanggal 11 Juli 1987. Sementara tata cara pelaksanaan dijabarkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah nomor 173/-C/Kep/M/87 tertanggal 7 Oktober 1987. Dengan diakuinya muatan lokal ini sebagai kurikulum, maka segala budaya, adat-istiadat, tradisi yang berkembang di suatu daerah bisa diaplikasikan pada suatu pembelajaran.
Berdasarkan paparan di atas, diperoleh satu permasalahan yakni bagaimana sebenarnya kurikulum muatan lokal itu, terutama perannya dalam melestarikan budaya suatu daerah.
Sehingga berdasarkan permasalahan di atas, tujuan dari paparan ini adalah mendeskripsikan kurikulum muatan lokal, sehingga benar-benar bisa dimanfaatkan sebagai salah satu upaya untuk melesatarikan budaya suatu daerah, dan menuangkannya dalam paparan yang berjudul “KURIKULUM MUATAN LOKAL”.

B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Kurikulum Muatan Lokal
Sesuai definisinya bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum ini ada beberapa jenis, salah satunya adalah kurikulum muatan lokal. Dalam kurikulum ini mencakup kegiatan muatan lokal yang materinya diambil berdasarkan budaya setempat.
Ada beberapa sekolah yang menempatkan muatan lokal sebagai kegiatan ekstrakurikuler, namun ada juga yang menempatkannya sebagai kegiatan kokulikuler. Kurikulum Muatan Lokal adalah pedoman penyelenggaraan Proses Belajar Mengajar (PBM) yang ditetapkan oleh daerah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan, yang berisikan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan dalam penyajian bahan itu dalam PBM. Pengertian lokal itu sendiri bisa mencakup wilayah pemerintahan provinsi, misalnya bahasa daerah, atau mungkin untuk wilayah kabupaten atau pun Wilayah desa tertentu, untuk bahan keterampilan, atau kesenian lokal atau pun sosial kemasyarakatan lainnya. (http://www.in’am.blogspot.com, diakses tanggal 24 November 2009).
Pendapat lain mengenai kurikulum muatan lokal dikemukakan oleh Tito (http://www.smartstito.blogspot.com, diakses tanggal 24 November 2009) yakni kurikulum muatan lokal ialah program pendidikan yang isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah dan wajib dipelajari oleh murid didaerah tersebut.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa sebelum ada sekolah formal, pendidikan yang berprogram muatan lokal telah dilaksanakan oleh para orang tua peserta didik dengan metode drill dan dengan trial and error serta berdasarkan berbagai pengalaman yang mereka hayati. Tujuan pendidikan mereka terutama agar anak-anak mereka dapat mandiri dalam kehidupan. Ia juga menambahkan bahwa bahan yang diajarkan ialah bahan yang diambil dari berbagai keadaan yang ada dialam sekitar. Sedang kriteria keberhasilannya ditandai mereka telah dapat hidup mandiri.
Menurut Dirjen Kurikulum Muatan Lokal adalah kurikulum yang di perkaya dengan materi pelajaran yang ada di lingkungan setempat.
Menurut Soewardi (dalam http://www.smartstito.blogspot.com, diakses tanggal 24 November 2009) Kurikulum Muatan Lokal adalah materi pelajaran dan pengenalan berbagai ciri khas daerah tertentu, bukan saja yang terdiri dari keterampilan, kerajinan, tetapi jaga manifestasi kebudayaan daerah legenda serta adat istiadat.
Berdasarkan batasan-batasan tersebut, diperoleh pengertian bahwa kurikulum muatan lokal adalah suatu materi pelajaran yang disesuaikan dengan tradisi yang khas dari daerah tertentu, yang mana bukan hanya menekankan pada pengetahuan kognitif, tetapi juga pada keterampilan, kerajinan, dan juga untuk menjaga dan melestarikan tradisi tersebut.

2. Tujuan Kurikulum Muatan Lokal
Wijaya Kusumah (http://wijayalabs.multiply.com, diakses tanggal 24 November 2009) menjelaskan bahwa ada 13 tujuan yakni:
a. berbudi pekerti luhur;
b. berkepribadian;
c. mandiri;
d. terampil;
e. beretos kerja tinggi;
f. profesional;
g. produktif;
h. sehat jasmani dan rohani;
i. cinta terhadap lingkungan;
j. kesetiakawanan sosial;
k. kreatif-inovatif untuk hidup;
l. mementingkan pekerjaan yang praktis; dan
m. rasa cinta budaya daerah dan budaya nasional.
Sementara Tito (http://www.smartstito.blogspot.com, diakses tanggal 24 November 2009) menyatakan bahwa terdapat dua tujuan penerapan muatan lokal dibedakan yaitu:
1. Tujuan Langsung
Tujuan langsung merupakan tujuan yang dapat segera di capai. Tujuan langsung ini memiliki aspek yang terdiri dari:
a. bahan pengajaran lebih mudah diserap oleh murid;
b. sumber belajar di daerah dapat lebih dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan;
c. murid dapat menerapkanpengetahuan dan keterampilan yangdipelajarinyauntuk memecahkan masalah yang ditemukan di sekitarnya; dan
d. murid lebih mengenal kondisi alam, lingkungan sosial dan lingkungan budaya yang terdapat di daerahnya.
2. Tujuan Tidak Langsung
Tujuan tidak langsung merupakan tujuan yang memerlukan waktu yang relatif lama untuk mencapainya. Tujuan tidak langsung pada dasarnya merupakan dampak dan tujuan langsung. Tujuan ini memiliki beberapa aspek yakni:
a. murid dapat meningkatkan pengetahuan mengenai daerahnya;
b. murid diharapkan dapat menolong orang tuanya dan menolong dirinya sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya; dan
c. murid menjadi akrab dengan lingkungannya dan terhindar dari keterasingan terhadap lingkungannya sendiri.
Dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar maka besar kemungkinan siswa dapat mengamati, melakukan percobaan atau kegiatan belajar sendiri. Belajar mencari, mengolah, menemukan informasi sendiri dan menggunakan informasi untuk memecahkan masalah yang abadi lingkungannya merupakan pola dasar dari belajar. Belajar tentang lingkungan dan dalam lingkungan mempunyai daya tarik tersendiri bagi seorang anak.

3. Fungsi Muatan Lokal Dalam Kurikulum
Muatan lokal, menurut Tito (http://www.smartstito.blogspot.com, diakses tanggal 24 November 2009), memiliki tiga fungsi, yakni:
1. Fungsi Integrasi
Siswa merupakan bagian integral dari masyarakat, karena itu muatan lokal harus merupakan program pendidikan yang berfungsi untuk mendidik pribadi-pribadi yang akan memberikan sumbangan kepada masyarakat atau berfungsi untuk membentuk dan mengintegrasikan pribadi kepada masyarakat.
2. Fungsi Perbedaan
Pengakuan atas perbedaan berarti pula memberi kesempatan bagi pribadi untuk memilih apa yang diinginkannya. Karena itu muatan lokal harus merupakan program pendidikan yang bersifat luwes, yang dapat memberikan pelayanan terhadap perbedaan minat dan kemampuan murid. Ini tidak berarti mendidik pribadi menjadi orang yang individualistik tetapi muatan lokal harus dapat berfungsi mendorong pribadi ke arah kemajuan sosialnya dalam masyarakat.
3. Fungsi Penyesuaian
Sekolah berada dalam lingkungan masyarakat. Karena itu program-program sekolah harus disesuaikan dengan lingkungan Demikian pula pribadi-pribadi yang ada dalam sekolah hidup dalam lingkungan, sehingga perlu diupayakan agar pribadi dapat menyesuaikan diri dan akrab dengan lingkungannya.

4. Pengembangan Muatan Lokal
Wijaya Kusumah (http://wijayalabs.multiply.com, diakses tanggal 24 November 2009) mengemukakan bahwa ada tiga langkah yang ditempuh dalam mengembangkan muatan lokal.
Adapun langkah-langkah tersebut adalah:
1. Menyusun Perencanaan Muatan Lokal
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran selalu menyangkut berbagai unsur atau komponen. Menyusun perencanaan muatan lokal juga akan menyangkut berbagai sumber, pengajar, metode, media, dana dan evaluasi.
Selain itu, dalam menyusun perencanaan ini perlu memperhatikan aspek-aspek: 1) mengidentifikasikan segala sesuatu yang mungkin dapat dijadikan bahan muatan lokal; 2) menseleksi bahan muatan lokal; 3) menyusun GBPP yang bersangkutan; 4) mencari sumber bahan yang tertulis maupun yang tidak tertulis; dan 5) mengusahakan sarana/prasarana yang relevan dan terjangkau.

2. Pembinaan dan Pengembangan Muatan Lokal
Pembinaan perlu ditangani oleh tenaga-tenaga yang profesional dan dilakukan secara kontinyu, karena dalam pelaksanaan di lapangan kadang-kadang siswa lebih mahir dari pada gurunya, karena siswa sudah biasa melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dimaksud, misalnya anak petani, anak pengrajin, bengkel, peternak dan sebagainya, yang akibatnya akan terjadi pembuangan tenaga, waktu dan biaya.

3. Pengembangan Muatan Lokal
Ada dua arah pengembangan dalam muatan lokal, yaitu :
a. Pengembangan untuk jangka jauh
Agar para siswa dapat melatih keahlian dan ketrampilan yang sesuai dengan harapan yang nantinya dapat membantu diriny, keluarga, masyarakat dan akhirnya membantu pembangunan nusa dan bangsanya. Oleh karena itu perkembangan muatan lokal dalam jangka panjang harus direncanakan secara sistematik oleh sekolah, keluarga, dan masyarakat setempat dengan perantara pakar-pakar pada instasi terkait baik negeri maupun swasta. Untuk muatan lokal disekolah dasar masih bersifat concentris, kemudian dilaksanakan secara kontinyu disekolah menengah pertama dan akan terjadi konvergensi disekolah menengah atas.
b. Pengembangan untuk jangka pendek
Perkembangan muatan lokal dalam jangka pendek dapat dilakukan oleh sekolah setempat dengan cara menyusun kurikulum muatan lokal kemudian menyusun GBPP-nya dan direvisi setiap saat.
Dalam pengembangan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti misalnya: 1) kekreatifan guru; 2) kesiapan siswa; 3) kesesuaian program; 4) ketersedianan sarana dan prasarana; 5) partisipasi masyarakat setempat; 6) cara pengelolaan; 7) pendekatan kepala sekolah dengan nara sumber dan instansi terkait.

C. PENUTUP
Berdasarkan semua uraian yang telah tersaji di depan, dalam kesempatan ini dapat dipetik beberapa simpulan dan juga saran seperti berikut.
1. Simpulan
Dari hasil kajian yang telah diuraikan sebelumnya, dapatlah dipetik suatu simpulan sebagai berikut.
a) Kurikulum muatan lokal adalah suatu materi pelajaran yang disesuaikan dengan tradisi yang khas dari daerah tertentu, yang mana bukan hanya menekankan pada pengetahuan kognitif, tetapi juga pada keterampilan, kerajinan, dan juga untuk menjaga dan melestarikan tradisi tersebut.
b) Kurikulum Muatan Lokal memiliki dua tujuan yaitu Tujuan Langsung (tujuan yang dapat segera dicapai) serta Tujuan Tidak Langsung (tujuan yang memerlukan waktu yang relatif lama untuk mencapainya. Tujuan tidak langsung pada dasarnya merupakan dampak dan tujuan langsung).
c) Fungsi Muatan Lokal terbagi menjadi tiga jenis yaitu: Fungsi Integrasi, Fungsi Perbedaan, dan Fungsi Penyesuaian.
d) Adapun langkah-langkah pengembangan muatan lokal adalah:
- Menyusun Perencanaan Muatan Lokal
- Pembinaan dan Pengembangan Muatan Lokal
- Pengembangan Muatan Lokal (terbagi menjadi dua yaitu pengembangan jangka panjang dan pengembangan jangka pendek)

2. Saran
Dalam kesempatan ini dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut.
a) Pembaca hendaknya ikut melestarikan budaya yang ada di sekitar tempat tinggal. Hal ini karena merupakan salah satu warisan bangsa dan budaya yang harus dilestarikan. Untuk itu diharapkan pembaca lebih memahami budaya-budaya yang berkembang, sehingga kebudayaan tersebut tidak akan punah.
b) Guru hendaknya benar-benar memikirkan budaya atau tradisi yang akan diajarkan pada siswa, termasuk pada saat pelaksanaannya di lapangan.

D. DAFTAR PUSTAKA
http://www.in’am.blogspot.com, diakses tanggal 24 November 2009

http://www.smartstito.blogspot.com, diakses tanggal 24 November 2009

http://wijayalabs.multiply.com, diakses tanggal 24 November 2009

2 komentar: